Home » Leadership dan Entrepreneurship » Faktor Produksi dan Konsep Kepemilikan
Follow Us:
Font Size: AAAPrintBookmark

Faktor Produksi dan Konsep Kepemilikan

  • A Pengertian Faktor dan Fungsi Produksi

    Dalam ilmu ekonomi, faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa. Pada awalnya, faktor produksi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan. Namun pada perkembangannya, faktor sumber daya alam diperluas cakupannya menjadi seluruh benda tangible, baik langsung dari alam maupun tidak, yang digunakan oleh perusahaan, yang kemudian disebut sebagai faktor fisik (physical resources).

    Secara umum, tenaga kerja, tanah, dan modal dipandang sebagai tiga faktor produksi terpenting. Ketika sebuah perusahaan komputer memproduksi perangkat lunak (Software) berupa sebuah program, perusahaan tersebut menggunakan waktu kerja si pemogram (tenaga kerja), ruangan fisik tempat laboratorium atau kantor berada (tanah), serta bangunan dan berbagai peralatan komputer (modal).

    Fungsi produksi adalah hubungan teknis antara faktor produksi (input) dan hasil produksi (output). Bila faktor produksi tidak ada maka tidak ada proses produksi. Produksi yang dihasilkan dengan menggunakan faktor alam disebut produksi alami. Sedangkan jika produksi dilakukan dengan memanipulasi faktor- faktor produksi disebur produksi rekayasa.

    Produksi yang bersifat alami tidak dapat dikontrol, baik dari sisi efisiensi maupun efektivitasnya sebab ia bersifat eksternal. Kelebihan dan kekurangan produksi alami merupakan suatu yang seharusnya diterima oleh pemakai. Sedangkan produksi rekayasa adalah produksi yang bersifat internal. Produksi seperti ini dapat dikontrol oleh pemakai. Efektivitas dan efisiensi produksi dapat diatur dengan menggunakan teknologi.

    Setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang dalam teori ekonomi disebut sebagai fungsi produksi. Hal ini dapat ditulis dengan suatu persamaan matematis:

    Q = f (X1, X2, X3?????Xn)

    Q = Tingkat produksi

    X1=output

    X2=tenaga kerja

    X3=modal

    X4 =kewirausahaan

    Dalam beberapa buku teks faktor produksi dapat di tulis secara matematis.

    Q = f (K, L, R, T)

    Q = tingkat produksi

    K = modal

    L = tenaga kerja dan keahlian kewirausahaan

    R = kekayaan alam

    T = teknologi

    Maksud dari persamaan diatas merupakan suatu pernyataan matematis yang pada dasarnya berarti bahwa tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumlah modal, tenaga kerja, kekayaan alam dan tingkat teknologi yang di gunakan. Dengan membandingkan berbagai gabungan faktor-faktor produksi menghasilkan sejumlah barang tertentu dapatlah di tentukan gabungan faktor produksi yang paling ekonomis untuk memproduksi sejumlah barang.

    B Jenis Faktor Produksi

    Secara total, saat ini ada lima hal yang dianggap sebagai faktor produksi, yaitu tenaga kerja (labor), modal (capital), sumber daya fisik (physical resources), kewirausahaan (entrepreneurship), dan sumber daya informasi (information resources).

    1. Tenaga kerja:

    Merupakan faktor produksi insani yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.

    Berdasarkan kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur, akuntan, dan ahli hukum.

    Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya. Misalnya tukang listrik, montir, tukang las, dan sopir. Sementara itu, tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya. Misalnya tukang sapu, pemulung, dan lain-lain.

    Berdasarkan sifat kerjanya, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani. Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa, dan karsa. Misalnya guru, editor, konsultan, dan pengacara. Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi. Misalnya tukang las, pengayuh becak, dan sopir.

    2. Modal

    Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua yaitu modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misalnya setoran dari pemilik perusahaan. Sementara itu, modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misalnya modal yang berupa pinjaman bank.

    Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misalnya mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan yang dimaksud dengan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak merek.

    Berdasarkan pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan atau bunga tabungan di bank. Sedangkan yang dimaksud dengan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.

    Modal dibagi berdasarkan sifatnya yaitu modal tetap dan modal lancar. Modal tetap adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang. Misalnya mesin-mesin dan bangunan pabrik. Sementara itu, yang dimaksud dengan modal lancar adalah modal yang habis digunakan dalam satu kali proses produksi. Misalnya, bahan-bahan baku.

    3. Sumber daya fisik alam

    Adalah semua kekayaan yang terdapat di alam semesta dan barang mentah lainnya yang dapat digunakan dalam proses produksi. Faktor yang termasuk di dalamnya adalah tanah, air, dan bahan mentah (raw material), sumber daya alam non-energi seperti bahan tambang seperti tembaga, biji besi dan pasir; juga sumber daya energi seperti bahan bakar industri, serta fasilitas perkantoran dan produksi. Dalam pandangan ekonomi klasik, tanah dianggap sebagai suatu factor produksi penting mencakup semua sumber daya alam yang digunakan dalam proses produksi.

    4. Kewirausahaan

    Adalah keahlian atau keterampilan yang digunakan seseorang dalam mengkoordinir faktor-faktor produk.

    5. Sumber Daya Informasi

    Adalah seluruh data yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya. Data ini bisa berupa ramalan kondisi pasar, pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan, dan data-data ekonomi lainnya.

    Beberapa ahli juga menganggap sumber daya informasi sebagai sebuah faktor produksi mengingat semakin pentingnya peran informasi di era globalisasi ini.

    C Fungsi produksi dan produk marjinal tenaga kerja

    Dalam memutuskan berapa banyak pekerja yang perlu direkrut, perusahaan itu harus mengetahui bagaimana jumlah pekerja mempengaruhi output yang mereka produksi. Bahan penting untuk membuat keputusan tersebut yakni data produk marjinal tenaga kerja yaitu kenaikan output dari tambahan satu unit input tenaga kerja.

    Dalam teori ekonomi diambil pula satu asumsi dasar mengenai sifat dari fungsi produksi yaitu fungsi produksi dari semua produksi dimana semua produsen dianggap tunduk pada suatu hukum yang disebut: The Law of Diminishing Returns. Hukum ini berbunyi: apabila satu macam input di tambah penggunaannya sedang input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula menaik tetapi kemudian setelah mencapai suatu titik tertentu akan semakin menurun seiring dengan pertambahan input. Hukum ini dapat dibedakan dalam 3 tahap yaitu:

    1. Tahap pertama: produksi total mengalami pertambahan yang semakin cepat

    2. Tahap kedua: produksi total pertambahannya semakin lambat

    3. Tahap ketiga: produksi total semakin lama semakin berkurang.

    Untuk analisis pertama, kita akan mencoba melihat bagaimanakah teori produksi dengan hanya satu faktor yang berubah dalam hal ini yang di asumsikan berubah hanyalah faktor produksi tenaga kerja. Dalam analisis tersebut dimisalkan bahwa faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap jumlahnya yaitu modal dan tanah jumlahya dianggap tidak mengalami perubahan.

    Tanah (hektar)

    Tenaga Kerja(L)

    Produksi Total(TP)

    Produksi Marginal(MP)

    Produksi Rata-rata(AP)

    1

    1

    4

    4

    4

    1

    2

    10

    6

    5

    1

    3

    17

    7

    5.7

    1

    4

    23

    6

    5.8

    1

    5

    28

    5

    5.6

    1

    6

    31

    3

    5.2

    1

    7

    32

    1

    4.6

    1

    8

    32

    0

    4

    1

    9

    30

    -2

    3.3

    1

    10

    25

    -5

    2.5

    Tabel diatas menunjukkan bahwa produksi total ditunjukkan dalam kolom 3 mengalami pertambahan yang semakin cepat apabila tenaga kerja ditambah dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 3 dan seterusnya. Maka dalam keadaan ini kegiatan memproduksi mencapai Tahap Pertama. Apabila tenaga kerja ditambah dari 3 menjadi 4, 4 menjadi 5, 5 menjadi 6 dan selanjutnya 6 menjadi 7, produksi total tetap bertambah tetapi jumlah pertambahannya semakin lama semakin sedikit. Maka dalam keadaan ini produksi mencapai Tahap Kedua yaitu keadaan dimana produksi marginal semakin berkurang. Tahap Ketiga, pertambahan tenaga kerja tidak akan menambah produksi total yaitu produksi total berkurang. Pada waktu tenaga kerja bertambah dari 7 menjadi 8, produksi total masih mengalami peningkatan. Akan tetapi apabila satu lagi tenaga kerja ditambah dari 8 menjadi 9 maka produksi totalnya menurun.

    Kolom 4 menunjukkan nilai produksi Marginal yaitu tambahan produksi yang diakibatkan pertambahan satu tenaga kerja yang digunakan. Rumus Produksi Marginal: MP=? TP/? L

    Contoh: pada saat terjadi petambahan tenaga kerja dari 4 menjadi 5 pekerja, dalam tabel menunjukkan bahwa produksi total dari 23 menjadi 28 maka, ? TP=28-23=5, ?L= 5-4=1 jadi MP=?TP/?L=5/1=5.

    Kolom 5 menunjukkan produksi rata-rata (average production) yaitu produksi yang secara rata-rata dihasilkan oleh setiap pekerja. Rumus produksi rata-rata (AP):

    AP=TP/L

    Contoh : ketika tenaga kerja yang digunakan adalah 2 orang. Produksi totalnya adalah 10. Maka produksi rata-rata adalah 10/2= 5 unit, angka-angka dalam kolom 5 menunjukkan bahwa dalam tahap pertama jumlah produksi rata-rata semakin bertambah besar, namun selanjutnya mulai di tahap kedua pertambahan tersebut semakin menurun.

    D Biaya Produksi

    Dalam jangka pendek, kita mengenal adanya factor produksi tetap dan factor produksi variabel, sehingga dengan sendirinya biaya produksi yang ditimbulkan oleh proses produksi itu juga menyangkut biaya tetap dan biaya variabel. Total dari biaya tersebut dinamakan biaya total, dan ada juga biaya rata-rata dan biaya marjinal.

    Biaya produksi dapat kita kelompokkan menjadi:

    1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

    Yaitu biaya yang jumlahnya tidak berubah ketika kuantitas output berubah. Biaya ini akan tetap ada walaupun perusahaan tidak melakukan produksi. Yang termasuk ke dalam biaya ini adalah sewa ruangan toko, gaji karyawan administrasi dan penyusutan mesin-mesin yang dipakai.

    1. Biaya Variabel (Variable Cost)

    Yaitu biaya yang jumlahnya berubah ketika jumlah barang yang diproduksi berubah. Yang termasuk ke dalam biaya ini adalah biaya pembelian bahan mentah atau bahan dasar yang digunakan untuk produksi.

    1. Biaya Total (Total Cost)

    Yaitu seluruh biaya atau pengeluaran yang dibayarkan perusahaan untuk membeli berbagai input (barang dan jasa) untuk keperluan produksi. Untuk menghitung biaya total kita menghitung jumlah antara biaya tetap dan biaya variabel:

    Biaya Total= Biaya Tetap+Biaya Variabel

    TC= FC+VC

    Sebagai contoh, dalam kasus toko kue Pak Anton, biaya variabel yang ditanggung adalah biaya membeli gula, tepung terigu, telur dan lain-lain. Semakin banyak kue yang akan dibuat, maka semakin banyak pula bahan yang dibutuhkan. Begitu juga bila Pak Anton ingin menambah pegawai honorer. Maka pegawai baru tersebut termasuk biaya variabel bukan biaya tetap.

    Lihatlah tabel berbagai ukuran biaya toko kue Pak Anton berikut ini.

    Kuantiitas

    Biaya Tetap (FC)

    Biaya Variabel (VC)

    Biaya Total (TC)= FC+VC

    0

    200

    0

    200

    1

    200

    30

    230

    2

    200

    80

    280

    3

    200

    150

    350

    4

    200

    250

    450

    5

    200

    350

    550

    6

    200

    460

    660

    7

    200

    600

    800

    8

    200

    800

    1000

    9

    200

    1010

    1210

    10

    200

    1250

    1450

    Jumlah barang yg diproduksi

    Biaya tetap tidak pernah berubah

    Bila produksi naik biaya variabel juga naik

    Jumlah keseluruhan pengeluaran

    1. Biaya Rata-Rata (Average Cost)

    Yaitu biaya yang menunjukkan jumlah biaya per unit barang yang dihasilkan yakni merupakan hasil bagi antara biaya keseluruhan dengan jumlah barang yang dihasilkan.

    Sebagai contoh, kasus Pak Anton tadi yang memproduksi kue untuk dijual di tokonya. Sebagai pemilik perusahaan, Pak anton harus memutuskan berapa banyak barang yang hendak diproduksinya. Untuk itu ia harus tahu:

    • ? Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah kue?
    • ? Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk meningkatkan produksi satu kue?

    Untuk menjawabnya, Pak Anton haruslah mengetahui berapa biaya rata-rata produknya. Karena biaya total merupakan biaya semua barang yang diproduksi, maka untuk mengetahui biaya tiap produk kita harus membagi biaya total dengan jumlah barang yang akan diproduksi. Secara matematis dapat ditulis:

    Biaya Rata-Rata= Biaya Total/Jumlah Barang

    AC= TC/Q

    Jika biaya total Pak Anton adalah 280 rupiah maka untuk produksi dua buah kue, biaya untuk setiap kuenya adalah:

    280/2= Rp 140

    Selain biaya total rata-rata, kita juga dapat menghitung :

    1. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost/AFC)

    Untuk mengetahui biaya tetap rata-rata tiap produk, kita bisa membagi biaya tetap dengan jumlah produk yang dibuat.

    Average Fixed Cost (AFC)= TFC/Q

    Semakin banyak barang X yang dihasilkan, maka biaya tetap rata-rata akan semakin kecil, dan bersifat asimtotik. Pada jumlah produksi yang kecil biaya rata-rata ini tampak tinggi dan pada jumlah produksi yang tinggi, biaya tetap rata-rata itu rendah.

    2. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost/AVC)

    Untuk mengetahui biaya variabel rata-rata tiap produk, kita bisa membagi biaya variabel dengan jumlah produk yang dibuat.

    Average Variable Cost (AVC)= TVC/Q

    1. Biaya Marjinal (Marginal Cost)

    Meskipun biaya total rata-rata dapat memberi tahu berapa banyak biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu barang, kita masih belum tahu berapa banyak biaya total itu akan berubah bila perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya. Untuk itu, kita harus menghitung biaya marjinalnya. Biaya marjinal ialah kenaikan biaya yang harus dikeluarkan Karena adanya tambahan barang yang diproduksi.

    Jadi berdasarkan contoh di atas, jika Pak Anton hendak menaikkan produksi barang dari dua kue menjadi tiga kue, maka biaya totalnya naik dari 280 rupiah menjadi 350 rupiah. Biaya marjinal untuk memproduksi kue ketiga ialah Rp 350-Rp 280= Rp 70.

    Secara matematis biaya marjinal dapat dirumuskan sebagai berikut:

    Biaya marjinal= Perubahan Biaya Total/Perubahan Kuantitas

    MC= ?TC/?Q.

    Dibawah ini adalah contoh kurva biaya tetap rata-rata, biaya variabel rata-rata, biaya (total) rata-rata, dan biaya marjinal.

    Dalam jangka panjang, semua faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi bersifat variabel. Konsep fungsi produksi jangka panjang dengan menggunakan dua faktor produksi dapat digambarkan dengan kurva yang dikenal dengan istilah kurva isokuan (isoquant) yang berasal dari kata iso (sama) dan quant (kuantitas), yakni kurva yang menggambarkan gabungan dua atau lebih faktor produksi (misalnya tenaga kerja dan modal) yang akan menghasilkan satu tingkat produksi yang sama (tertentu).

    a. Kurva Isoquant

    Berfungsi menggambarkan gabungan dua faktor produksi yang berubah-ubah, sementara faktor produksi lain dianggap tetap dan akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu. Diasumsikan faktor produksi terdiri atas dua yaitu tenaga kerja dan modal.

    Didalam tabel berikut digambarkan 4 gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan produksi sebanyak 100 unit.

    Tenaga Kerja

    Modal

    Gabungan

    1

    6

    A

    2

    3

    B

    3

    2

    C

    6

    1

    D

    Gabungan A, memperlihatkan bahwa 1 unit tenaga kerja dan 6 unit modal dapat menghasilkan produksi yang diinginkan tersebut begitu juga gabungan selanjutnya. Dalam contoh yang dibuat tingkat produksi tersebut adalah 100 unit. Semakin jauh dari titik 0 letaknya kurva, semakin tinggi tingkat produksi yang di tunjukkan.

    Gambar Kurva Isoquant

     

    b. Garis Biaya Produksi (Isocost)

    Produsen yang akan menghasilkan produk berusaha menghemat biaya atau meminimalkan biaya agar diperoleh laba yang maksimal. Untuk meminimalkan biaya produksi, perlu dibuat garis biaya sama (Isocost). Garis biaya sama adalah kurva yang menggambarkan gabungan faktor-faktor produksi yang dapat digunakan dengan sejumlah biaya tertentu. Untuk membuat garis biaya sama, diperlukan data tentang harga faktor-faktor produksi yang digunakan dan jumlah uang yang tersedia untuk membayar faktor-faktor produksi. Misalnya upah tenaga kerja Rp. 10.000 dan biaya modal per unit adalah Rp. 20.000, sedangkan jumlah uang yang tersedia adalah 80.000. apabila digunakan untuk memperoleh modal saja maka akan memperoleh sebanyak 4 unit, kalau digunakan untuk memperoleh tenaga kerja saja maka akan memperoleh 8 unit. Seterusnya titik A pada titik TC menunjukkan dana sebanyak Rp. 80.000 dapat digunakan untuk memperoleh 2 unit modal dan 4 unit tenaga kerja. Dalam grafik diperlihatkan beberapa garis biaya yang lain yaitu TC1, TC2, TC3. Garis-garis itu menunjukkan garis biaya sama apabila jumlah uang yang tersedia adalah Rp. 100.000, Rp. 120.000, dan Rp. 140.000.

    Kurva Isocost

     

    Setiap perusahaan yang ingin memperoleh keuntungan pasti akan melakukan dua hal mengenai masalah tersebut yakni, memaksimalkan produk dan meminimalkan biaya.

    a. Memaksimumkan produksi

    Misalkan biaya yang dibelanjakan untuk membeli per unit modal adalah 15.000 dan upah tenaga kerja per unit adalah 10.000 dan jumlah biaya produksi maksimum yang di sediakan oleh produsen adalah 300.000. dengan uang sebanyak 300.000 produsen dapat sekiranya membeli satu jenis faktor saja yakni memperoleh 20 unit modal atau 30 tenaga kerja. Yang perlu diselesaikan oleh pemilik perusahaan adalah dengan kombinasi manakah diperoleh produk yang paling maksimal? Titik maksimal produk yang dapat dipilih adalah titik A, B,atau C. kombinasi yang paling optimum bagi perusahaan adalah menggunakan 12 modal dan 12 tenaga kerja dimana titik iilah terjadi persinggungan antara kurva isoquant dan garis isocost.

    Kombinasi

    Modal

    Tenaga kerja

    jumlah

    Biaya Produksi

    A

    8

    8

    200 unit

    300.000

    B

    10

    10

    250 unit

    300.000

    C

    12

    12

    300 unit

    300.000

    Kurva

     

     

    b. Meminimumkan biaya

    Misalnya: diasumsikan tingkat produksi yang ingin dicapai oleh produsen adalah sebanyak 1000 unit. Jadi terdapat 3 alternatif atau kombinasi yakni

    Kombinasi

    Modal

    Tenaga kerja

    jumlah

    Biaya Produksi

    A

    12

    13

    1000 unit

    310.000

    B

    10

    12

    1000 unit

    270.000

    C

    8

    9

    1000 unit

    210.000

     

     

    Kurva

     

    Kombinasi faktor produksi yang paling efisien adalah pada alternatif C yaitu menghabiskan 8 unit modal dan 9 unit tenaga kerja yang menghasilkan 1000 unit.

    E Konsep Kepemilikan

    Dalam pandangan konvensional manusia di anggap memiliki hak milik yang mutlak atas alam semesta, karenanya ia bebas untuk memanfaatkan sesuai dengan kepentingannya. Manusia dapat mengeksploitasi semua sumber daya ekonomi yang di pandang akan memberikan kesejahteraan yang optimal.

    Konsep hak milik sebagaimana dalam konvensional tentu saja memiliki implikasi yang serius terutama pada perekonomian karena banyak timbul permasalahan yang rumit bagi masyarakat. Pengutamaan hak-hak individu dalam kapitalisme seringkali memunculkan konflik kepentingan antar anggota masyarakat. Dalam konflik seperti ini biasanya masyarakat miskin akan dikalahkan oleh kelompok kaya yang menguasai sumber daya ekonomi lebih banyak.

    Tujuan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat banyak dikorbankan oleh kepentingan-kepentingan individu, misalnya pada penempatan pasar sebagai mekanisme distribusi dan alokasi sumber daya yang paling penting, maka hanya konsumen yang memiliki daya beli memadai dan produsen yang berdaya saing tinggi sajalah yang akan menikmati kesejahteraan. Pengutamaan hak-hak individu sangat berpotensi untuk menimbulkan masalah ketidakadilan dan ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan dan pendapatan.

    Di sisi sebaliknya, penghapusan hak-hak individu secara ekstrim dalam sosialisme jelas sangat bertentangan dengan fitrah dasar manusia. Masyarakat menjadi kurang termotivasi untuk beraktifitas (dalam perekonomian), sebab seluruh tujuan dan kinerja ekonomi biasanya akan dikalahkan oleh tujuan yang bersifat sosial. Tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat seringkali dilakukan dengan mengabaikan pertimbangan individu-individu, yang sesungguhnya merupakan elemen dari masyarakat itu sendiri. Dalam prakteknya otoritas negara dalam sosialisme seringkali juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan non ekonomi, seperti politik oleh pemerintah yang berkuasa.

    Pengutamaan hak-hak sosial dengan mengabaikan hak-hak individu memang berpotensi untuk memperbaiki distribusi pendapatan dan kekayaan, tetapi juga menimbulkan rasa ketidakadilan dan cenderung mengabaikan efisiensi ekonomi.

    Hak kepimilikan sangat mengacu kepada kemampuan dari seseorang untuk mengendalikan dan memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya yang mereka miliki. Di negara Berkembang memahami bahwa rapuhnya sistem hak kepemilikan bisa menjadi masalah besar. Di banyak negara, sistem keadilan tidak berfungsi dengan baik, kontrak-kontrak bisnis sulit diandalkan, dan kasus-kasus penipuan seringkali raib begitu saja.

    Dalam kasus-kasus ekstrem, pemerintah tidak hanya gagal menjamin hak kepemilikan tetapi justru mengambil manfaat dari kerapuhan tersebut. Agar bisa berbisnis di sejumlah negara, perusahaan harus menyuap pejabat-pejabat pemerintah.

    Salah satu ancaman atas hak kepemilikan adalah kekacauan politik. Dengan demikian kemakmuran ekonomi sebagian tergantung pada stabilitas politik. Negara yang memiliki sistem pengadilan yang efisien, pejabat-pejabat pemerintah yang jujur dan konstitusi yang stabil akan menikmati standar kehidupan yang lebih tinggi dari pada sebuah negara yang memiliki sistem pengadilan yang buruk, pejabat-pejabat yang korup, serta politik yang sering diwarnai oleh revolusi.

    F Konsep kepemilikan Dalam Islam

    Prinsip dasar yang tercantum dalam Al-Qur?an dan Al-Hadits sangat memperhatikan masalah perilaku ekonomi manusia dalam posisi manusia atas sumber material yang diciptakan Allah untuk manusia. Islam mengakui hak manusia untuk memiliki sendiri untuk konsumsi dan untuk produksi namun tidak memberikan hak itu secara absolute(mutlak). Penekanan pembatasan hak milik absolute, Al-Qur?an menunjukkan pola masalah penciptaan sumber-sumber ekonomi bagi Allah terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur?an (QS. 13:3)

    Kepemilikan adalah suatu ikatan seseorang dengan hak miliknya yang disahkan Syari?ah. Kepemilikan berarti pula hak khusus yang didapatkan si pemilik sehingga ia mempunyai hak menggunakan sejauh tidak melakukan pelanggaran pada garis-garis Syari?ah.

    Kepemilikan Pribadi merupakan darah kehidupan bagi kapitalisme. Oleh karena itu, barang siapa yang menguasai factor produksi, maka ia akan menang. Demikian moto Kapitalisme. Ekonomi kapitalisme berdiri berlandaskan hak milik khusus atau hak milik individu. Ia memberikan kepada setiap individu hak memiliki apa saja sesukanya dari barang-barang yang produktif maupun yang konsumtif, tanpa ikatan apapun atas kemerdekaannya dalam memiliki, membelanjakan, maupun mengembangkan dan mengekploitasi kekayaannya.

    Sementara dalam Sosialisme: setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia kerjakan. Ekonomi ini mengedepankan pada hak milik umum atau hak milik orang banyak yang diperankan oleh Negara atas alat-alat produksi, tidak mengakui hak milik individu,kecuali hal-hal yang berlainan dengan dasar pokok yang umum itu. Negaralah pemilik satu-satunya alat produksi, semua rencana dan pengabdian yang berguna bagi seluruh bangsa. Orang tidak memiliki hak-hak, kecuali yang diakui dan memenuhi syarat terpeliharanya orang banyak.

    Sistem Ekonomi Islam memiliki sikap yang tersendiri terhadap hak milik. Ekonomi Islam menganggap kedua macam hak milik pada saat yang sama sebagai dasar pokok bukan sebagai pengecualian. Hak milik dalam Ekonomi Islam, baik hak milik khusus maupun hak milik umum, tidaklah mutlak, tetapi terikat oleh ikatan-ikatan untuk merealisasikan kepentingan orang banyak dan mencegah bahaya, yakni hal yang membuat hak milik menjadi tugas masyarakat.

    Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep kepemilikan harta. Pandangan tentang kepemilikan harta berbeda antara sistem ekonomi Sosialis dengan sistem ekonomi Kapitalis serta berbeda juga dengan sistem ekonomi Islam. Kepemilikan harta (barang dan jasa) dalam Sistem Sosialis dibatasi dari segi jumlah (kuantitas), namun dibebaskan dari segi cara (kualitas) memperoleh harta yang dimiliki. Artinya cara memperolehnya dibebaskan dengan cara apapun yang yang dapat dilakukan.

    Sedangkan menurut pandangan Sistem Ekonomi Kapitalis jumlah (kuantitas) kepemilikan harta individu berikut cara memperolehnya (kualitas) tidak dibatasi, yakni dibolehkan dengan cara apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Sedangkan menurut sistem ekonomi Islam kepemilikan harta dari segi jumlah (kuantitas) tidak dibatasi namun dibatasi dengan cara-cara tertentu (kualitas) dalam memperoleh harta (ada aturan halal dan haram).

    Demikian juga pandangan tentang jenis kepemilikan harta. Di dalam sistem ekonomi sosialis tidak dikenal kepemilikan individu (private property). Yang ada hanya kepemilikan negara (state property) yang dibagikan secara merata kepada seluruh individu masyarakat. Kepemilikan negara selamanya tidak bisa dirubah menjadi kepemilikan individu. Berbeda dengan itu di dalam Sistem Ekonomi Kapitalis dikenal kepemilikan individu (private property) serta kepemilikan umum (public property). Perhatian Sistem Ekonomi Kapitalis terhadap kepemilikan individu jauh lebih besar dibandingkan dengan kepemilikan umum. Tidak jarang kepemilikan umum dapat diubah menjadi kepemilikan individu dengan jalan privatisasi. Berbeda lagi dengan Sistem Ekonomi Islam, yang mempunyai pandangan bahwa ada kepemilikan individu (private property), kepemilikan umum (public property) serta kepemilikan negara (state property). Menurut Sistem Ekonomi Islam, jenis kepemilikan umum khususnya tidak boleh diubah menjadi kepemilikan negara atau kepemilikan individu.

    Perbedaan lainnya antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep pengelolaan kepemilikan harta, baik dari segi nafkah maupun upaya pengembangan kepemilikan. Menurut sistem ekonomi kapitalis dan sosialis, harta yang telah dimiliki dapat dipergunakan (konsumsi) ataupun di kembangkan (investasi) secara bebas tanpa memperhatikan aspek halal dan haram serta bahayanya bagi masyarakat. Sebagai contoh, membeli dan mengkonsumsi minuman keras (khamr) adalah sesuatu yang dibolehkan, bahkan upaya pembuatannya dalam bentuk pendirian pabrik-pabrik minuman keras dilegalkan dan tidak dilarang.

    Sedangkan menurut Islam harta yang telah dimiliki, pemanfaatan (konsumsi) maupun pengembangannya (investasi) wajib terikat dengan ketentuan halal dan haram. Dengan demikian maka membeli, mengkonsumsi barang-barang yang haram adalah tidak diperkenankan (dilarang). Termasuk juga upaya investasi berupa pendirian pabrik barang-barang haram juga dilarang. Karena itulah memproduksi, menjual, membeli dan mengkonsumsi minuman keras adalah sesuatu yang dilarang dalam sistem ekonomi Islam.

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

    Kesimpulan

    faktor produksi merupakan sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa. Pada awalnya, faktor produksi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan. Namun pada perkembangannya, faktor sumber daya alam diperluas cakupannya menjadi seluruh benda tangible, baik langsung dari alam maupun tidak, yang digunakan oleh perusahaan, yang kemudian disebut sebagai faktor fisik (physical resources).

    Fungsi produksi menggambarkan berapa jumlah produksi maksimum yang mampu diproduksi oleh produsen pada setiap kombinasi input atau faktor produksi yang ada. Isoquant adalah kurva yang menunjukkan semua kombinasi input yang dibutuhkan dalam menghasilkan suatu produksi oleh produsen. Garis biaya sama adalah kurva yang menggambarkan gabungan faktor-faktor produksi yang dapat digunakan dengan sejumlah biaya tertentu. Untuk membuat garis biaya sama, diperlukan data tentang harga faktor-faktor produksi yang digunakan dan jumlah uang yang tersedia untuk membayar faktor-faktor produksi.

    Konsep hak milik sebagaimana dalam konvensional tentu saja memiliki implikasi yang serius terutama pada perekonomian karena banyak timbul permasalahan yang rumit bagi masyarakat. Pengutamaan hak-hak individu dalam kapitalisme seringkali memunculkan konflik kepentingan antar anggota masyarakat. Kepemilikan dalam pandangan islam adalah suatu ikatan seseorang dengan hak miliknya yang disahkan Syari?ah. Kepemilikan berarti pula hak khusus yang didapatkan si pemilik sehingga ia mempunyai hak menggunakan sejauh tidak melakukan pelanggaran pada garis-garis Syari?ah.? ( Ayu Zuhroidah )

    FacebookTwitterGoogle+EmailLinkedIn

    Baca juga:
Facebook Iconfacebook like buttonTwitter Icontwitter follow button